27/02/2021

10 Tempat Wisata di Palembang Yang Menarik Dikunjungi

10 min read

www.manufacturingtalk.com10 Tempat Wisata di Palembang Yang Menarik Dikunjungi. Palembang merupakan salah satu kota tertua di Indonesia dan merupakan kawasan cagar budaya Kerajaan Sriwijaya dengan jutaan cagar budaya. Palembang tidak hanya terkenal dengan makanan khasnya, tetapi juga memiliki potensi tempat wisata yang sangat menarik.

Fakta membuktikan, Palembang berhasil terpilih pada 2018 menjadi tuan rumah Asian Games 2018 bersama Jakarta.

Nah, jika kamu berencana ke Palembang untuk berlibur, Saya akan merekomendasikan 10 destinasi atau tempat wisata di Palembang yang menarik ini, dan wajib masuk ke dalam wish list kamu!

1. Jembatan Ampera

Palembang identik dengan Jembatan Amperea yang terkenal dengan masakan khas empek-empeknya. Masyarakat Palembang sepakat bahwa jembatan yang menghubungkan kawasan di seberang Yrill dengan sisi lain di hulu merupakan simbol kota yang merupakan kebanggaan masyarakat Palembang. Tak heran, berbagai acara hiburan yang digelar di Palembang kerap digelar di dekat Jembatan Ampere.

Jembatan Ampere memiliki panjang lebih dari 1.000 meter, lebar 22 meter (4 jalur), dan tinggi 63 meter. Saat itu, Jembatan Ampere tercatat sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Sejak penjajahan Belanda tahun 1906, gagasan membangun Jembatan Ampera sebenarnya sudah ada.Tujuan utamanya adalah menghubungkan dua wilayah yang dipisahkan Sungai Kayu Raksasa dan Sungai Musi, yaitu melintasi Sungai Ilir dan Sungai Musi. seberang hulu. Namun, ide ini baru terwujud pada tahun 1957.

Pada awal pembangunannya, Jembatan Ampere didesain dengan hati-hati untuk mengangkat bagian tengah jembatan agar kapal-kapal besar dapat melintasi Sungai Musi tanpa terjatuh ke badan jembatan. Pengangkatan badan jembatan dilakukan secara mekanis yaitu dengan menggunakan dua buah alat suspensi pemberat yang masing-masing berbobot sekitar 500 ton dan terdapat pendulum di kedua menara. Kecepatan pembukaan jembatan sekitar 10 meter per menit, dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk membuka jembatan sepenuhnya.

Kini, Jembatan Ampera tidak lagi dibuka, kecuali dilintasi kapal-kapal besar, membuka jembatan terlalu lama akan mengganggu arus lalu lintas di atasnya. Jika fungsi jembatan terbuka tidak lagi digunakan, maka 500 ton pendulum di kedua tiang akan diturunkan untuk alasan keamanan.

Selain berperan sentral dalam menghubungkan dua kawasan yang dipisahkan oleh Sungai Musi, Jembatan Ampera juga memiliki sejarah yang panjang. Pada awal berdirinya, mengingat jembatan ini membentang di dua wilayah yang dipisahkan oleh Sungai Musi, maka Jembatan Ampere dinamakan Jembatan Musi. Kemudian, namanya juga diubah menjadi Jembatan Bung Karno untuk memberikan penghormatan kepada Soekarno (yang berperan besar dalam pembangunan jembatan tersebut).

Isu politik di Tanah Air kemudian mengubah nama Jembatan Boncano menjadi Jembatan Ampera. Ampera (Ampera) adalah singkatan dari “orang-orang yang tertata.” Ampala adalah slogan yang sering digunakan oleh Soekarno, mengapresiasi usahanya dalam memimpin negara untuk mencapai kemakmuran dan kemakmuran bersama.

Sebagai landmark Kota Palembang, Jembatan Ampera terus direnovasi dan direnovasi. Jembatan Ampera pada malam hari didekorasi dengan lampu-lampu sehingga terlihat indah dan eksotis. Banyak orang yang berpendapat bahwa menyaksikan Jembatan Ampere pada malam hari seperti menyaksikan suasana eksotis Venesia di Italia. Dari atas Jembatan Ampera, Anda akan melihat benteng Kuto Besak yang masih berdiri. Pada saat yang sama, Plasa Benteng Kuto Besak memiliki pasar malam pasar malam yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Tak heran jika banyak orang mengira jika tidak melihat keindahan Jembatan Ampere di malam hari, maka perjalanan ke Palembang belum lengkap.

Baca Juga: 25 Wisata Outdoor di Tangerang yang Wajib Dikunjungi

2. Masjid Cheng Ho Palembang

Pergi ke selatan dari pusat Kota Palembang, tepatnya di kawasan pemukiman Amin Mulia di Jakabaring, di mana terdapat masjid berwarna terang dengan ciri khas arsitektur Tionghoa yang kaya. Masjid ini dibangun atas prakarsa Paguyuban Islam Palembang Cina-Indonesia (PITI), dengan nama lengkap Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho.

Saat Masjid Cheng Ho Palembang dibangun, latar belakangnya adalah untuk menjaga hubungan baik antara masyarakat Tionghoa dan Palembang, dan juga sebagai tempat untuk memperdalam ajaran Islam dan mengenalkannya kepada masyarakat luas.

Penggunaan nama Cheng Hao bukan tanpa alasan, sejak abad ke-15, Cheng Hao disebut sebagai Panglima Angkatan Laut Tiongkok. Diyakini bahwa Zheng He menggunakan armada besar untuk memimpin seluruh nusantara dalam ekspedisi perdagangan. Meskipun rencana perjalanan awal Cheng Hao adalah ekspedisi perdagangan, dia secara tidak langsung membantu memperkenalkan Islam ke daerah-daerah yang dia kunjungi. Karena perilakunya yang baik dan damai, Zheng He memiliki banyak pengikut.

Masjid Chenghao Palembang berukuran sekitar 20×20 meter, dibangun di atas lahan seluas sekitar 4.990 meter persegi. Tanah ini diberikan oleh Syahrial Oesman, Gubernur Sumatera Selatan waktu itu. Dalam proses pembuatannya, Masjid Zheng He dilengkapi dengan dua menara yang masing-masing diberi nama Habluminallah dan Hambluminannas. Sedangkan di bagian bawah menara terdapat bak cuci piring dengan ukuran 4×4 meter.

Dua menara Masjid Zheng He di Palembang ini memiliki 5 tingkat, melambangkan jumlah salat yang dilakukan 5 kali sehari. Menara ini memiliki tinggi 17 meter, dan angka ini melambangkan jumlah siklus yang harus dilakukan setiap Muslim setiap hari. Sementara itu, di bagian luar menara, terdapat dekorasi khas Palembang yang dihiasi tanduk kambing. Penggunaan ornamen-ornamen unik tersebut bukannya tidak beralasan.Selain Masjid Zheng He dibangun di atas tanah Palembang, masyarakat juga menyadari eratnya hubungan antara budaya Palembang dan budaya Tionghoa.

Secara mendalam, pengunjung akan menemukan dominan merah-warna yang sama dengan budaya Tionghoa. Arsitektur Tionghoa juga terlihat dari pintu gerbang masjid. Pancang kayu dan dekorasi pada pagar pembatas atas mempercantik tampilan masjid yang penuh warna Tionghoa ini. Secara total, masjid ini mampu menampung sekitar 500 jamaah.

Masjid Chenghao di Palembang ada tidak hanya untuk memuja Chenghao sebagai tokoh muslim Tionghoa. Tidak hanya itu, nama Zheng He berharap dapat membuat kita menyadari pentingnya meniru apa yang dia lakukan, yaitu menyebarkan perdamaian kepada siapa pun yang dia temui.

3. Pulau Kemaro

Pulau Kaimaru adalah sebuah delta kecil di Sungai Musi, sekitar 6 kilometer dari Jembatan Ampere. Pulau Kemaro terletak di kawasan industri, antara Pabrik Pupuk Sriwijaya dan Pertamina Plaju dan Sungai Gerong. Pulau Kemaro (Pulau Kemaro) terletak di sebelah timur pusat Kota Palembang (Kota Palembang).

Pulau Kaimaro memiliki luas ± 79 hektar dan memiliki ketinggian 5 m. Selain pemandangan alamnya yang indah, Pulau Kaimaro memang identik dengan kota-kota Tionghoa dan masyarakat Tionghoa, serta adat istiadat Tionghoa. Orang-orang Palembang. Tempat wisata sejarah di Pulau Kaimaro tampil dalam bentuk peninggalan sejarah (pagoda 9 lantai, makam putri Sriwijaya, Kuil Hejing Rio, kuil Budha, pentas seni dan upacara keagamaan, khususnya Buddhisme Tritunggal). Karena kisah Kerajaan Sriwijaya dan putri Raja Kerajaan Sriwijaya dan putra Raja Kerajaan Cina terkait erat, sejarah Kimaro telah ada, dan legenda bernama Kimaro telah muncul di sang legenda. Pulau. pulau. Artinya Pulau Kemaro adalah pulau yang kering (pulau yang tidak akan pernah tenggelam saat Sungai Musi sedang pasang).

Sejarah Pulau Kemarau (Kembara), Pulau Kemarau merupakan salah satu delta Sungai Musi dan telah dijadikan pos jaga sejak jaman Sriwijaya.Bahkan Panglima Cheng Ho pernah menetap di Pulau Kemarau untuk membasmi bajak laut dari Tiongkok. Zaman Kerajaan Palembang menjadi salah satu benteng yang berfungsi sebagai pintu gerbang sungai sebelum memasuki Istana Kota Palembang (tengah). Nama benteng tersebut adalah Benteng Tambak Bayo, jika kapal hanya masuk ke pusat kota maka harus melewati dan mendapat ijin dari pos terdepan benteng. 

4. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB) menyimpan cerita tentang sejarah Palembang. Koleksi museum tersebut antara lain lukisan perang Palembang, peralatan perang tradisional seperti pedang / pedang, prasasti Kedukan Bukit, porselen antik, pakaian adat dan kain songket.

Museum SMB terbagi menjadi dua lantai, ada juga pusat penjualan suvenir di dekat loket penjualan tiket di lantai dua. Bagi yang baru pertama kali mengunjungi tempat ini, pemandu museum akan mengenalkan Anda pada sejarah setiap koleksi yang ada di Museum SMB.

 Museum buka setiap hari, tapi hanya setengah hari di hari Senin. Harga tiketnya Rp 1.000 untuk anak-anak dan pelajar, Rp 2.000 untuk pelajar, Rp 5.000 untuk umum, dan Rp 20.000 untuk turis asing.

lokasi:

Museum ini terletak di kawasan benteng Kuto Besak, persis di belakang Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat). Lokasinya hanya berjarak sekitar 3 kilometer

5. Sekanak Sidewalk

Tepi Sungai Sekanak saat ini menjadi salah satu tujuan wisata terbaru Palembang.Pasar yang sudah ada sejak zaman Belanada ini memang menjadi salah satu pasar tradisional, menjadi pusat lalu lintas kapal dan kapal, serta beberapa bangunan juga telah dibangun pada tahun 1900-an, bahkan mungkin lebih tua.

Sebagai kota kuno dengan banyak tempat wisata, Palembang terus menggali potensi objek wisata yang dapat dimanfaatkan.Salah satunya adalah memanfaatkan Sungai Musi untuk memoles tepian Sungai Sekanak dengan cat warna-warni sehingga menjadi tujuan populer para wisatawan. .

Konsep tepian sungai full colour merupakan salah satu tempat paling populer di Palembang yang memiliki banyak bangunan tua yang masih kokoh (suasana kota tua).

Bagi teman-teman yang menyukai Heritage Walk, Sekanak adalah destinasi yang tepat. Sebab terdapat beberapa bangunan tua bersejarah dan trotoar Sekanak. Usai merevitalisasi anak sungai Sekanak, destinasi trotoar Sekanak akhirnya dibuka pada tahun 2018 lalu, yang merupakan bagian dari menyambut Asian Games 2018 agar pengunjung dapat menikmati tepian sungai Musi dengan tampilan yang sedikit berbeda.

6. Alquran Al Akbar

Al Quran Al-Akbar atau di kota Palembang biasa juga disebut Al Quran Raksasa yang terletak di Pondok Pesantren Al Ihsaniyah Gandus Palembang. Ada sekitar 30 ayat Alquran yang diukir / diukir pada papan kayu gaya Palembang, Harganya sekitar 40 meter kubik kayu Tembesu, biayanya tidak kurang dari Rp 2 Milyar, dan nomor halaman tiap halaman adalah 177 x 140 x 2.5 Cm,   tebal total termasuk covernya mencapai 9 meter.

630 halaman “Al-Quran” juga dilengkapi dengan nyanyian Kataman dan doa untuk pemula. Setiap kertas diukir dengan ayat Alquran, warna background kayu coklat dengan huruf arab berwarna kuning, dan terdapat motif bunga yang terukir di tepi ornamen khas Palembang, terlihat sangat indah dan mudah dibaca. Proses pembuatannya sendiri membutuhkan waktu yang relatif lama, sekitar tujuh tahun.

Al Quran  raksasa ini adalah “Quran” terbesar dan 30 ons pertama di dunia, yang terbuat dari kayu tipe Tempesu di media. Sebelum resmi terbit, “Alquran” terbesar sengaja dipajang di showroom Masjid Palembang Palembang, berdurasi tiga tahun dan mendapat koreksi semua orang.

Baca Juga: Inilah! 10 Destinasi Tempat Bebatuan Paling Bersejarah di Dunia

7. Air Terjun Maung

Lahat merupakan salah satu daerah di Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki potensi pariwisatanya yang luar biasa. Salah satunya Air Terjun Maung yang berganti nama menjadi Curup Maung yang terletak di Desa Rinduhati, Kabupaten Lahat Kecamatan Gumay Ulu, Provinsi Sumatera Selatan, berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat kota Lahat dan 220 kilometer dari Palembang, Palembang. Air terjun ini menjadi pilihan liburan yang menyenangkan.

Pemandangan yang masih sangat hijau dan alami menjadi alasan para wisatawan berkunjung ke tempat ini. Ketinggian air terjun ini sekitar 80 meter dan lebarnya hampir sama dengan tingginya. Aliran Curup Maung sepanjang 80 meter dipisahkan oleh jurang dan rerumputan hijau, sehingga terlihat sangat indah dan berbeda dari kebanyakan air terjun. Anda bisa duduk santai di atas bebatuan besar di tepi sungai sambil menikmati hijaunya pepohonan di sekitar air terjun.

Selain itu, pemandangan indah lainnya bisa kamu lihat dari penampakan dua air terjun di sebelah kanan Air Terjun Maung. Bagian bawah air terjun sering dijadikan tempat para wisatawan untuk mandi atau berenang. Tempat pemandiannya luas, mengalir ke Sungai Le Madang yang terlihat sangat jernih dan menyegarkan. Perjalanan ini cukup murah, Anda hanya perlu membayar Rp. 5.000 tempat parkir. Bersamaan dengan itu, masuk gratis ke kawasan Curup Maung.

Perjalanan yang harus ditempuh untuk mencapai Curup Maung sangatlah sulit. Dibutuhkan waktu 45 hingga 70 menit untuk mencapai lokasi Curup Maung dengan menggunakan sepeda motor atau mobil dari pusat kota. Sesampainya di Desa Padang Muaro Duo di Kecamatan Gumay Ulu, Anda wajib memarkir kendaraan di tempat parkir yang disediakan warga sekitar. Dari sini, Anda harus menyusuri jalan setapak atau berjalan kaki sekitar satu jam, kemudian melewati hutan untuk mencapai perkebunan kopi milik warga sekitar di medan menurun dengan kemiringan 30-45 derajat untuk melanjutkan perjalanan.

8. Punti Kayu

Jika ingin berwisata terdekat, Anda bisa menemukan Taman Wisata Punti kayu di pusat Kota Palembang. Di mana-mana terdapat pepohonan lebat, dan suasana hutan kota ini bisa menyegarkan pikiran Anda. Luas hutan sekitar 50 hektar.

Di sini Anda dapat mengunjungi kebun binatang, peternakan buaya, kolam renang, area piknik, taman, wisata perahu, atraksi gajah, dan area menunggang kuda. Paket lengkap bukan?

9. Benteng Kuto Besak

Kuto Besak merupakan bangunan istana yang menjadi pusat Kesultanan Palembang pada abad ke-18. Ide pembangunan Benteng Kuto Besak diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (Sultan Mahmud Badaruddin I) pada tahun 1724-1758, dan penggantinya Sultan Muhammad Bahauddin (Sultan Muhammad Bahauddin) pada tahun 1776 – Memerintah pembangunan tersebut pada tahun 1803. Sultan Mahmud Bahauddin (Sultan Mahmud Bahauddin) adalah kesultanan Realistis Negara Palem Darussalam dalam perdagangan internasional dan pemuka agama yang menjadikan Negara Palem sebagai pusat sastra religi di nusantara. Sebagai sultan, dia pindah dari Istana Cotto Lamo ke Cotto Bisac. Orang Belanda menyebut Kuto Besak (Kuto Besak) sebagai istana baru, juga dikenal sebagai istana baru.

10. Tugu Belido

Monumen berbentuk Ikan Belido ini diresmikan pada 11 Februari 2018 oleh Harnojoyo, Wali Kota Palembang, Presiden Direktur PT Bukit Assam, Arviyan Arifin.

Monumen Ikan Belido memiliki warna silver tua, yang suatu saat akan menghancurkan air yang mengalir ke Sungai Musi, seperti patung singa kebanggaan Singapura.

Ikon baru Kota Palembang, Tugu Ikan Belidor.

Lambang Baru Kota Palembang, Tugu Ikan Belido.

Monumen Ikan Belidor ini terletak di kawasan benteng Kuto Besak di Palembang, tepatnya di Kecamatan Yili 19 Bukit Kecil di Palembang.

Bahkan Monumen Ikan Belido yang tergolong baru dapat menarik jutaan wisatawan untuk berkunjung dan mengabadikan momen indah dari Monumen Ikan Belido.

Sejarah monumen ikan Belido, Tugu Ikan Belidor dibangun sesuai dengan rencana Corporate Social Responsibility (CSR) PT Bukit Asam. Biaya produksi gedungnya sendiri kurang lebih Rp 3,4 miliar. Dibangunnya tugu ini juga merupakan bentuk terima kasih dari Pemerintah Kota Palembang, karena dengan adanya habitat ikan Belido dapat meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat Palembang.

Ikan pelido merupakan bahan utama dalam pempek, kemplan dan biskuit khas Palembang.

Namun karena kelangkaan buah pinang, pengusaha kuliner Palembang beralih ke jenis ikan lainnya, seperti makarel dan cumi. Ikan belido sangat bermanfaat untuk perkembangan bisnis makanan khas Palembang yang sangat besar. Untuk tujuan ini, abadi dalam bentuk monumen.

Pembangunan Monumen Ikan Belido dimulai pada November 2016 dan selesai pada September 2017.

Monumen Ikan Belido di Bukit Asam memiliki tinggi 9 meter dan panjang patung ikan 12 meter.

Monumen Ikan Belido terbuat dari tembaga setebal 1,2 mm dan dicat perak, serta memiliki berat 3 ton.

Monumen Ikan Belido menghadap ke Sungai Musi, dan air mancur dapat dikeluarkan dari mulutnya.

Balido adalah ikan khas Sungai Musi, hampir punah.

Dengan adanya Tugu Ikan Belidor, Pemerintah Kota Palembang berharap dapat meningkatkan semangat warga Palemang untuk menjaga habitat ikan pinang.

Ikon baru Kota Palembang, Tugu Ikan Belidor

Lambang Baru Kota Palembang, Tugu Ikan Belidor (SRIPOKU.COM/NISYAH)

Menurut Dinas Pertanian Palembang, flounder ini masih bisa dinaikkan.

Namun, mereka dibatasi oleh jenis makanan dan ketersediaan air bersih. Ikan belido yang hidup di Sungai Musi biasanya memakan ikan-ikan kecil. Ikan sungai ini hanya bisa hidup di air bersih, tidak ada limbah tercampur, baik limbah industri maupun limbah rumah tangga.

Dibandingkan dengan ikan yang hidup di Sungai Musi, ikan Belida termasuk yang paling sulit berkembang biak. Ikan belida bertelur dalam jumlah kecil, sehingga saat ini sangat langka.

Ditambah dengan meningkatnya permintaan ikan ini ternyata belum cukup untuk memenuhi permintaan pasar.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.