03/08/2021

Manufacturingtalk – informasi mengenai perusahaan manufaktur

Manufacturingtalk.com merupakan situs informasi mengenai perusahaan manufaktur yang ada ssat ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

7 Film Bertema Pahlawan di Indonesia

9 min read

www.manufacturingtalk.com7 Film Bertema Pahlawan Di Indonesia. Belajar sejarah nasional juga bisa dilakukan dengan cara yang menarik, salah satunya melalui film. Industri film Indonesia kini mulai diperkaya dengan film-film perjuangan sejarah yang patut disaksikan. Berikut 7 film dan perkenalan singkat tentang pahlawan Indonesia:

1. Soegija (2012)

Soegija merupakan film drama sejarah Indonesia yang disutradarai oleh sutradara seorang senior Indonesia ialah Garin Nugroho, dibintangi seorang budayawan Nirwan Dewanto & berperan sebagai pahlawan nasional Albertus Soegijapranata. Film yang dibintangi oleh aktor-aktor dari berbagai latar belakang budaya ini akan dirilis di Indonesia pada 7 Juni 2012 dengan anggaran sekitar Rp 12 Miliar, merupakan yang termahal yang disutradarai oleh Garin Nugroho.

Baca Juga: 5 Film Asia Bertema Masa SMA, Bikin Anda Bernostalgia

Film ini dibuat dalam bentuk film perjuangan yang diambil dari buku harian “Manajer Pahlawan Nasional”. Soegijapranata, SJ, memiliki latar belakang dalam Perang Kemerdekaan Indonesia dan mendirikan Republik Indonesia Amerika Serikat dari tahun 1940 hingga 1949. Film ini disutradarai oleh sutradara senior Garin Nugroho dan berlatar di Yogyakarta dan Semarang. Film ini juga menampilkan tokoh nasional Indonesia lainnya, seperti Soekarno, Fatmawati, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Sri Paku Alam VIII, Jenderal Soedirman, Soeharto, dll. Untuk bisa menggambarkan pengalaman Soegija, film ini menampilkan banyak karakter nyata, namun secara reguler menampilkan detail dari peristiwa sehari-hari yang ditetapkan di Indonesia, Jepang, Belanda, institusi sipil dan militer.

Sinopsis

Dengan meningkatkan aspek kemanusiaan universal daripada menekankan pada aspek religius, film ini bercerita tentang SJ Monsinyur Albertus Soegijapranata, uskup pribumi pertama Hindia Belanda (sekarang Indonesia), dari pengangkatannya hingga akhir Perang Indonesia. Kemerdekaan (1940-1949). Dekade yang bergejolak ini menandai berakhirnya penjajahan Belanda, awal dan awal pendudukan Jepang, deklarasi kemerdekaan Indonesia, dan kembalinya Belanda yang ingin merebut kembali Indonesia guna memulai Perang Kemerdekaan Indonesia. Soegija merefleksikan kejadian-kejadian ini dalam buku hariannya dan berperan dalam meringankan penderitaan rakyat dalam kekacauan perang. Ia mencoba untuk berperan di semua tingkatan politik lokal, nasional dan internasional. Karena keikutsertaannya, Presiden Soekarno memberinya gelar Pahlawan Nasional.

2. Soekarno: Indonesia Merdeka (2013)

Soekarno adalah film biografi Indonesia tahun 2013 yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan ditulis oleh Ben Sihombing. Film ini menceritakan kehidupan Soekarno, presiden pertama Indonesia. Soekarno terlahir sebagai “Kusno” dan merupakan salah satu tokoh utama yang sangat berperan penting memperjuangkan untuk kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Film yang dibintangi oleh Ario Bayu (Ario Bayu) itu memerankan Soekarno.

Pada 13 Desember 2013, Pengadilan Administrasi Pusat Bisnis (PTUN) Jakarta menyetujui permintaan Rachmawati Soekarnoputri, putri Soekarno, untuk menghentikan peredaran film tersebut. Beberapa kritikus film mengkritik film tersebut karena terlalu komersial dan mempertaruhkan kebebasan untuk menggambarkan peristiwa dan karakter sejarah. Namun, pada tanggal 7 Januari tahun 2014, PTUN memutuskan agar membatalkan sebuah keputusan sebelumnya & mengizinkan pemutaran film tersebut.

Film ini terpilih sebagai film berbahasa asing terbaik di Indonesia pada Academy Awards ke-87, namun tidak masuk nominasi.

Sipnosis

Soekarno didasarkan pada kehidupan Soekarno, dari masa kecil hingga sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1931, pemerintah Hindia Belanda di pulau Jawa menangkap Sukarno, seorang calon nasionalis muda yang ingin membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda. Dia kemudian ditempatkan di Penjara Banceuy di Bandung, Indonesia. Sukarno menemukan cara untuk melawan dengan mengeluarkan pernyataan pembelaannya yang terkenal “Menuduh Indonesia”. (Penuntutan Indonesia) Selama persidangan di Gedung Pengadilan Laandraad di Bandung.

Kontroversi

Pada September 2013, putri Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri, mengaku merasa dikhianati oleh studio produksi MVP Pictures dan menolak merilis versi terbaru film tersebut. Ia menginginkan aktor Anjasmara berperan sebagai Soekarno dalam film tersebut, namun sutradara Hanung Bramantyo tetap memilih Ario Bayu. Namun, Rachmawati menilai peran Ario sebagai ayah tidak sesuai dengan harapan. Ia juga mengeluh bahwa ia tidak diizinkan untuk memberikan arahan atau umpan balik atas perkenalan Ario dan penjelasan tentang gerak tubuh dan perilaku tokoh utama, yang menurutnya perlu baginya untuk menggambarkan ayahnya dengan lebih baik. Pada 23 September 2013, perselisihan berakhir dengan Rachmawati, dan Hanung Bramantyo dilaporkan ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. Pada saat yang sama, Hanung secara terbuka menyatakan bahwa dia yakin motif Rachmawati berkonflik dengannya adalah murni untuk mencari publisitas dan popularitasnya sendiri. Terlepas dari kontroversi, perilisan film terus berlanjut. Sutradara percaya bahwa film ini akurat secara historis. Ia berkata pada September 2013: “Saya akan terus menelusuri layar Sokarno karena tidak ada masalah dengan film ini.” Ia mengatakan bahwa Rachmawati hanya berhak memberikan nasihat, tetapi tidak membuat keputusan apa pun yang sebenarnya tentang film itu sendiri. . Dia juga mengatakan sesuatu terkait masalah ini. Produksi film adalah satu-satunya hak prerogatif sutradara.

3. Sang Kiai (2013)

Sang Kiai merupakan film drama Indonesia tahun 2013 yang menceritakan tentang seorang pejuang kemerdekaan yang juga salah satu pendiri Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur yaitu Hadratussyaikh Kyai Haji Hasyim Asy’ari. Film ini dibintangi oleh Ikranagara, Christine Hakim, Agus Kuncoro dan Dolken Duke.

Film tersebut terpilih sebagai perwakilan kategori film berbahasa asing terbaik di Indonesia pada Academy Awards ke-86, namun tidak masuk nominasi.

Sinopsis

Fakta membuktikan bahwa penjajahan Jepang tidak lebih baik dari Belanda. Jepang mulai melarang pengibaran bendera merah putih, melarang lagu “Indonesia Raya”, dan memaksa masyarakat Indonesia untuk melakukan “Salute” (Salute to the Sun). KH Hasyim Asyari yang merupakan tokoh agama utama saat itu menolak menerima Sekerei karena dianggap menyimpang dari Akida Islam. Ditolak karena sebagai muslim mereka hanya bisa menyembah Allah SWT. Karena keberaniannya, Jepang menangkap KH. Hasyim Asyari.

Salah satu putranya, KH Wahid Hasyim, sedang mencari cara diplomatis untuk membebaskan KH Hasyim Asyari. Berbeda dengan Harun, santri KH Hasyim Asyari ini berpendapat bahwa kekerasan bisa menyelesaikan masalah. Harun menghimpun kekuatan mahasiswa dan menggelar demonstrasi menuntut kemerdekaan Partai Liberal (KH. Hasyim Asyari). Namun Harlan salah karena cara ini justru menambah jumlah korban.

KH Wahid Hasyim berhasil memenangkan diplomasi dengan Jepang melalui cara damai, dan KH Hasyim Asyari berhasil dibebaskan. Fakta membuktikan bahwa perjuangan anti-Jepang tidak berhenti sampai di situ. Jepang memaksa rakyat Indonesia untuk mendesentralisasikan tanaman mereka. Jepang menggunakan Masyumi yang dibawakan oleh KH. Hasyim Asy’ari mendorong pembangunan pertanian. Bahkan tanda seru dimasukkan ke dalam kelas shalat Jumat. Ternyata hasil panen rakyat harus disimpan di tangan Jepang. Meski saat itu masyarakat sedang mengalami krisis beras, bahkan lumbung petani hampir kosong. Harun melihat masalah itu secara harafiah, dan merasa KH. Hasyim Asy’ari mendukung Jepang, sehingga ia memutuskan keluar dari pesantren.

Jepang kalah perang, dan pasukan sekutu mulai turun. Presiden Soekarno saat itu mengirim utusan khusus ke Tebuireng dan meminta Kath Hasyim Asyari membantu mempertahankan kemerdekaan. Resolusi jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asyari menanggapi permintaan Soekarno yang menyebabkan segerombolan mahasiswa dan warga Surabaya tanpa rasa takut berbondong-bondong ke sekutu Surabaya. Gaung resolusi jihad yang didukung spiritualitas agama membuat Indonesia berani mati.

Di Jombang, Sarinah membantu barisan santri perempuan untuk merawat korban perang dan menyiapkan jatah makan. Sekelompok tentara Santri kembali ke Teb Iran dengan beberapa truk. KH Hasyim Asyari menyambut kedatangan santri pemberani tersebut, namun berkaca-kaca berlinang air mata .

4. Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015)

Guru Bangsa: Tjokroaminoto adalah film drama Indonesia yang dirilis pada tahun 2015. Film ini disutradarai oleh Garin Nugroho dan diproduseri oleh Christine Hakim. Film ini menceritakan biografi pahlawan nasional Tjokroaminoto yang melibatkan beberapa pemeran dalam film tersebut, antara lain Reza Rahardian, Christine Hakim, Didi Petet, Alex Komang, Egi Fedly, Sujiwo Tedjo, Maia Estianty, dll.

Di antara 8 nominasi di Festival Film Indonesia 2015, film ini memenangkan 3 di antaranya, yaitu Fotografi Terbaik, Gaya Seni Terbaik dan Gaun Terbaik.

Sipnosis

Haji Oemar Said Tjokroaminoto (Reza Rahadian) lahir dari keluarga terpelajar dan terpelajar serta mengkhawatirkan keadaan di sekitarnya. Saat Tjokroaminoto bisa hidup layak, sebenarnya dia akan semakin merasakan ketimpangan di masyarakat.

Dengan tekad dan pengetahuan, dia memutuskan untuk melepaskan status luhurnya dan mengabdi pada negara. Pada tahun 1912, perjuangan keras Trecro Amino dimulai dengan berdirinya Sarekat Islam. Asosiasi tersebut didirikan untuk memungkinkan kaum muda Indonesia menentang rezim kolonial Hindia Belanda.

Ketika Partai Islam Sarekat mulai berkembang, Tjokroaminoto memutuskan untuk memindahkan pusat gerakan ke Surabaya. Ia juga mulai berkumpul secara rutin, memberikan pidato dan menerbitkan surat kabar. Lambat laun munculnya gerakan Tjokroaminoto mulai menjadi ancaman bagi pemerintah Hindia Belanda.

Dalam upaya menghentikan perjuangan Tjokroaminoto, pejuang juga harus menghadapi perbedaan dalam organisasinya. Simak kisah selanjutnya di Guru Bangsa Tjokroaminoto yang bisa kamu tonton di Netflix.

KelemahanĀ 

Ada beberapa kelemahan dalam film Guru Bangsa Tjokroamino yang tidak bisa disebarkan ke pemain melalui beberapa aspek jalan cerita. Partisipasi masyarakat tidak disebutkan dengan jelas. Gagasan Tjokro untuk berkembang di masyarakat tidak dikedepankan dengan benar. Banyak detail film telah diproses sehingga yang lainnya tertinggal. Selain itu, film-film Tjokro masih memadukan gaya Indonesia dan Hollywood, sehingga ciri-ciri filmnya belum jelas. Sekalipun mereka kesepian

dalam penampilan para peserta utama, mereka tidak akan tenggelam dalam pandangan penonton. Seperti karya serupa sebelumnya, film Tjokroaminoto hanya berdasarkan penelitian, meski penjelasan sutradaranya juga tersembunyi.

5. Jenderal Sudirman (2015)

Jenderal Soedirman adalah film biografi yang mengisahkan tentang Jenderal Soedirman, pemimpin gerilyawan, yang membela kemerdekaan bangsa Indonesia meski menderita penyakit paru-paru. Film ini disutradarai oleh Viva Westi dan disutradarai oleh Adipati Dolken, Ibnu Jamil, Matthias Muchus (Mathias Muchus), disutradarai oleh Baim Wong dan Nugie.

Film tersebut dirilis di bioskop Indonesia tepat 10 hari setelah peringatan 70 tahun kemerdekaan Indonesia pada 27 Agustus 2015.

Sipnosis

Belanda menyatakan secara sepihak tidak terikat oleh Perjanjian Renville dan pada saat yang sama mengumumkan gencatan senjata. Pada 19 Desember 1948, komandan Angkatan Darat Belanda, Jenderal Simmons Spr, memimpin agresi militer kedua dan menyerang ibu kota Republik, Yogyakarta.

Soekarno-Hatta ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Jenderal Soedirman, yang sakit parah, pergi ke selatan dan melakukan perang gerilya selama 7 bulan.

Belanda bilang Indonesia tidak ada. Jenderal Soedirman melaporkan dari dalam hutan bahwa Republik Indonesia masih ada, berdiri dengan Tentara Nasionalnya yang kuat.

Baca Juga: 8 Presenter Cantik Di Indonesia

Soedirman membawa Jawa ke medan perang gerilya yang luas, menghabiskan waktu dan logistik Belanda.

Persatuan TNI dan rakyatlah yang akhirnya memenangkan perang. Dengan ditandatanganinya “Perjanjian Roem-Royen”, Kerajaan Belanda mengakui sepenuhnya kedaulatan Indonesia.

Kontroversi

Setelah diputar di bioskop, film tersebut diterima dengan baik oleh penonton. Namun, Didi Mahardika, cucu Presiden pertama Indonesia Soekarno, melontarkan protes keras. Menurutnya film ini memiliki banyak kesalahan sejarah.

Beberapa kekhawatirannya adalah:

Adegan dialog antara Presiden Sukarno dan Jenderal Sudeman atau Baidiman mendramatisasi perbedaan antara negosiasi dan perjuangan melalui perang frontal. Didi mengatakan, hal itu bisa menghilangkan makna persatuan dan kesatuan bangsa.

Tempat kejadian presiden dan wakil presiden mengaku berbohong dan melakukan kejahatan karena tidak mendapat janji gerilyawan. Hal ini dapat menimbulkan kontroversi.

Adegan yang diminta Bung Karno untuk direkam ulang saat memeluk Pak Dirman juga bertolak belakang dengan fakta sejarah

Adegan tentang peran Tan Malaka dan pasukannya tampak bertentangan dengan status Tan Malaka sebagai pahlawan nasional.

Pak Dirman (Pak Dirman) memfilmkan adegan paha (tidak sesuai dengan kesopanan orang Jawa asli). Pak Dirman (Pak Dirman) memakai topi yang ditujukan untuk senapan dan mengayuh orang Belanda itu, asal muasal sejarahnya masih belum jelas.

Peran Sri Sultan Hamengkubowobo IX dan Pak Harto sebagai sahabat dekat Pak Dirman tak terungkap dalam film tersebut.

Menanggapi protes tersebut, Westin sangat terbuka sebagai sutradara dan menerima semua pujian, termasuk kritik terhadap film tersebut. Ia memastikan bahwa semua konten dalam film ini didasarkan pada berbagai pertimbangan dan tanggung jawab.

6. Kartini (2017)

Kartini adalah film biografi yang menggambarkan sosok Kartini yang berjuang untuk memerdekakan perempuan Indonesia. Film ini merupakan kisah cinta fiksi antara Kartini setelah “R.A. Kartini (Film) (1984), dan Surat Cinta untuk Kartini (2016). Dian Sastrowardoyo berperan sebagai Kartini.

Sipnosis

Film ini bercerita tentang Dian Sastrowardoyo sebagai sosok kartini yang melihat ibunya Ngasirah (Christine Hakim) menjadi pembantu di rumahnya ketika dia besar nanti. Ini terjadi karena dia tidak memiliki darah bangsawan, tetapi menjadi seorang pembantu. Ayahnya Raden Sosroningrat (Deddy Sutomo) sangat menyukai Kartini, dan dengan enggan menolak tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kartini telah bekerja keras sepanjang hidupnya untuk membuat hak semua orang setara, mulia atau tidak. Khususnya terkait hak perempuan atas pendidikan, Kartini dan dua saudara perempuannya Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita) telah bekerja keras membangun sekolah bagi kaum miskin dan menciptakan lapangan kerja bagi seluruh di Jepara.

7. Wage (2017)

Film ini bercerita tentang Wage Supratman, pemuda pencipta lagu Indonesia Raya.

Lagu ini merupakan lagu kebangsaan Indonesia, lambang dan identitas negara.

Itu diumumkan bersamaan dengan “Sumpah Pemuda” pada 28 Oktober 1928.

Ini sebenarnya adalah wujud dari kebangkitan kesadaran pemuda Indonesia dan kebangkitan perlawanan bangsa terhadap penjajah.

Secara keseluruhan masyarakat Indonesia Raya sudah tidak ada lagi perbedaan daerah, ras, dan agama.

Semua itu tertuang dalam lirik lagu “Indonesia Raya” dan “Sumpah Pemuda” yang lahir bersamaan.

“Saya harus ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia melalui lagu dan biola saya. Oleh karena itu, saya juga harus ikut langsung dalam gerakan ini untuk mencapai kemerdekaan nasional Indonesia.”

Semangat seperti itu selalu membara di “Supratman Wage”.

Nyatanya, semangat ini akan selalu terus berjuang melawan penindasan para penjajah

Bagi Wage Supratman, darah pejuang itu mengangkat semangatnya dan meninggalkan semua kemewahan yang dia rasakan di Makassar dan kembali ke Jawa.

Semangat ini pula yang mendorong Wage Supratman untuk berpartisipasi langsung dalam gerakan kemerdekaan Jawa.

Wage Supratman memutuskan menjadi jurnalis, mengungkapkan semua penderitaan rakyat kecil.

Tak hanya itu, Wage Supratman juga aktif mengikuti ruang rapat organisasi kepemudaan.

Berpartisipasi dalam gerakan nasional dan mengubah lagu perjuangan yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan bangsa Indonesia.

Seperti ‘Indonesia Wahai Ibuku’, ‘Dari Barat Sampai ke Timur’, “R.A Kartini” dan “Di Timur Matahari”, di antaranya puncak tertingginya adalah lagu kebangsaanĀ  Indonesia Raya

Produksi

diproduksi dan ditayangkan pada tahun 2017 ini menceritakan kehidupan Wage Rudolf Supratman atau WR Supratman pencipta lagu kebangsaan Indonesia.

Film ini disutradarai oleh John De Rantau dan disutradarai oleh Freddy Aryanto dan Gunawan BS.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.